<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ekowisata Archives - Insan Wisata Consulting</title>
	<atom:link href="https://insanwisata.id/tag/ekowisata/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://insanwisata.id/tag/ekowisata/</link>
	<description>Konsultan Perencanaan Pariwisata</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Apr 2024 23:53:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://insanwisata.id/wp-content/uploads/2022/12/cropped-Screen-Shot-2022-12-12-at-13.15.54-32x32.png</url>
	<title>ekowisata Archives - Insan Wisata Consulting</title>
	<link>https://insanwisata.id/tag/ekowisata/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">123967821</site>	<item>
		<title>Dilema Praktik Ekowisata: Menyorot Realita di Balik Klaim Konservasi Lingkungan</title>
		<link>https://insanwisata.id/dilema-praktik-ekowisata/</link>
					<comments>https://insanwisata.id/dilema-praktik-ekowisata/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rheina Meuthia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Apr 2024 23:50:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[ekowisata]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[Sustainable Tourism]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://insanwisata.id/?p=7775</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seiring dengan masalah krisis lingkungan, ekowisata hadir sebagai solusinya. Namun, realita di lapangan, praktik ekowisata seringkali tidak sejalan dengan klaim optimis tersebut. </p>
<p>The post <a href="https://insanwisata.id/dilema-praktik-ekowisata/">Dilema Praktik Ekowisata: Menyorot Realita di Balik Klaim Konservasi Lingkungan</a> appeared first on <a href="https://insanwisata.id">Insan Wisata Consulting</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Seiring dengan masalah krisis lingkungan yang makin mendapat perhatian, ekowisata hadir sebagai salah satu bentuk usaha konservasi lingkungan. <a href="https://insanwisata.id/pengembangan-ekowisata/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Ekowisata</a> merupakan bentuk pariwisata yang bertujuan untuk melestarikan alam dan lingkungan, sembari mempromosikan pemahaman dan kesadaran tentang pentingnya konservasi sumber daya alam. </p>



<span id="more-7775"></span>



<p>Istilah &#8220;<a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Ekowisata" target="_blank" rel="noreferrer noopener">ekowisata</a>&#8221; sendiri merupakan gabungan dari kata &#8220;eko&#8221; yang merujuk pada ekologi atau lingkungan, dan &#8220;wisata&#8221; yang berarti perjalanan atau kunjungan. Namun, realita di lapangan, praktik ekowisata seringkali tidak sejalan dengan klaim optimis tersebut. </p>



<p>Penyediaan ruang infrastruktur ekowisata terkadang menjadi penyebab atas terjadinya destruksi sumber daya lokal. Dampak lain yang signifikan adalah degradasi fitur alamiah, seperti erosi tanah dan kerusakan vegetasi akibat dari jalur-jalur yang digunakan secara terus-menerus oleh para pengunjung. Masalah serius lainnya adalah risiko beberapa area menjadi terlalu padat karena kunjungan wisata yang berlebihan yang dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan dan hilangnya daya tarik alamiah yang unik. </p>



<p>Hal ini juga diperburuk oleh pihak pengelola yang  tidak memainkan peran yang signifikan dalam memberi informasi kepada pengunjung tentang pengetahuan mengenai sumber daya hutan dan satwa liar. Dalam konteks ini, &#8220;memberi informasi&#8221; dapat merujuk pada penyampaian pengetahuan tentang pentingnya konservasi, perlindungan lingkungan, dan pentingnya melestarikan satwa liar kepada komunitas lokal di sekitar destinasi ekowisata. </p>



<p>Di sisi lain, peran pengelola dalam membangun kapasitas secara umum masih terbilang minim. &#8220;Membangun kapasitas&#8221; mengacu pada upaya untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan, dan kesadaran komunitas terkait dengan upaya konservasi dan pengelolaan sumber daya alam.</p>



<p>Terdapat beberapa kemungkinan yang menjadi penyebab peran pengelola dalam hal ini menjadi terbatas. Salah satunya terkait fokus utama pengelola pariwisata yang berpusat pada operasi bisnis sehingga mereka berfokus pada penyediaan layanan kepada wisatawan dan mempromosikan destinasi. Hal ini didukung dengan anggapan bahwa upaya untuk memberikan informasi atau melakukan kegiatan pembangunan kapasitas dianggap di luar ruang lingkup utama operasi mereka. </p>



<p>Selain itu, terdapat juga keterbatasan sumber daya, baik dalam hal waktu maupun keuangan. Hal ini tentunya dapat menyebabkan pengelola ekowisata tidak mampu untuk melaksanakan program-program pembangunan kapasitas bagi komunitas lokal. Akses kemitraan yang terbatas, dukungan dari <em>stakeholder</em> lokal yang kurang harmonis, mungkin saja menjadi kendalanya. Hal ini membuat pengelola lebih fokus pada aspek-aspek operasional yang dapat memberikan hasil finansial yang lebih cepat atau yang lebih mudah diukur.</p>



<p>Mengacu pada permasalahan di atas, perlu dilakukan kolaborasi yang masih di antara unsur pentaheliks (akademisi, pelaku usaha, media, pemerintah, dan komunitas/masyarakat). Kolaborasi ini perlu dibangun untuk memastikan keberhasilan upaya konservasi dan keberlanjutan destinasi ekowisata. Pengelola destinasi juga perlu mengambil peran yang lebih proaktif dalam menyediakan pendidikan dan informasi kepada komunitas lokal tentang pentingnya konservasi ekologi. </p>



<p>Baca juga: <a href="https://insanwisata.id/pembangunan-pariwisata-berkelanjutan/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan: Inilah Tantangannya!</a></p>



<p>Hal tersebut dapat dilakukan melalui program-program edukasi, <em>workshop</em>, dan kampanye kesadaran lingkungan yang diselenggarakan secara rutin. Selain itu, pengelola juga dapat berkontribusi dalam membangun kapasitas masyarakat lokal dengan menyediakan pelatihan dan pendidikan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan terkait konservasi dan pengelolaan sumber daya alam. </p>



<p>Kolaborasi aktif antara semua pemangku kepentingan ini akan membantu memastikan bahwa praktik ekowisata tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi semua pihak yang terlibat. Namun, juga berkontribusi terhadap pelestarian alam dan keberlanjutan jangka panjang destinasi ekowisata tersebut.</p>



<p><strong>Referensi</strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Stem, C. J., Lassoie, J. P., Lee, D. R., &amp; Deshler, D. J. (2003). How&#8217;eco&#8217;is ecotourism? A comparative case study of ecotourism in Costa Rica. <em>Journal of sustainable tourism</em>, <em>11</em>(4), 322-347.</li>



<li>Wall, G. (1997). Is ecotourism sustainable?. <em>Environmental management</em>, <em>21</em>(4), 483-491.</li>



<li>Zambrano, A. M. A., Broadbent, E. N., &amp; Durham, W. H. (2010). Social and environmental effects of ecotourism in the Osa Peninsula of Costa Rica: the Lapa Rios case. <em>Journal of Ecotourism</em>, <em>9</em>(1), 62-83.</li>
</ul>
<p>The post <a href="https://insanwisata.id/dilema-praktik-ekowisata/">Dilema Praktik Ekowisata: Menyorot Realita di Balik Klaim Konservasi Lingkungan</a> appeared first on <a href="https://insanwisata.id">Insan Wisata Consulting</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://insanwisata.id/dilema-praktik-ekowisata/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">7775</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Trekking Plunyon: Memahami Konsep Travelling Ramah Lingkungan</title>
		<link>https://insanwisata.id/trekking-plunyon/</link>
					<comments>https://insanwisata.id/trekking-plunyon/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Oct 2023 02:42:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[ekowisata]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata Berkelanjutan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://insanwisata.id/?p=6768</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kegiatan ekowisata di Gunung Merapi dapat menjadi model yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi lingkungan, masyarakat setempat, dan para pengunjung.</p>
<p>The post <a href="https://insanwisata.id/trekking-plunyon/">Trekking Plunyon: Memahami Konsep Travelling Ramah Lingkungan</a> appeared first on <a href="https://insanwisata.id">Insan Wisata Consulting</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pada 14 Oktober 2023, Insan Wisata berkesempatan menjadi narasumber dalam kegiatan TEDx UGM yang bertempat di Plunyon, Kali Kuning, Yogyakarta. Berbeda dari <em>event</em> sebelumnya, TEDx UGM mengajak peserta untuk merasakan keindahan alam sekaligus meningkatkan kesadaran akan pelestarian lingkungan. Konsep acara ini menggabungkan aktivitas <em>trekking</em> dan <em>sharing</em> yang menggandeng operator perjalanan yang telah sukses mengembangkan konsep wisata ramah lingkungan, yakni Moana. </p>



<span id="more-6768"></span>



<p>Acara <em>trekking</em> yang diselenggarakan TEDx UGM bersama Moana ini tentunya tidak hanya menawarkan pengalaman <em>trekking</em> yang berkesan di lereng Gunung Merapi. Namun, memberikan kesempatan kepada peserta untuk terlibat dalam kegiatan pelestarian lingkungan dan memberikan penghargaan terhadap alam. Salah satu aksi nyatanya adalah dengan melakukan pelepasan ikan di kawasan Kali Kuning. </p>



<p>Hadir sebagai narasumber, Hannif selaku pemerhati pariwisata dari Insan Wisata Consulting menjelaskan bahwa konsep <em>trekking</em> yang berkembang saat ini adalah bentuk respon terhadap permintaan pasar. Di samping itu, <em>trekking</em> adalah bentuk <a href="https://insanwisata.id/pengembangan-ekowisata/">konsep ekowisata</a> yang dapat menjadi solusi untuk meminimalkan dampak negatif dari pembangunan pariwisata. </p>



<p>Iwan, selaku masyarakat lokal di lereng Merapi yang juga bergerak sebagai pelaku wisata menambahkan, bahwa Merapi menjadi sumber mata pencaharian masyarakat. Selain berprofesi sebagai petani, banyak masyarakat yang terlibat dalam kegiatan kepariwisataan, seperti penyedia jasa pemandu wisata, operator <em>jeep</em>, membuka penginapan, dan berjualan makanan minuman.</p>



<div style="height:30px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1600" height="1069" src="https://insanwisata.id/wp-content/uploads/2023/10/DSC08225.jpg" alt="" class="wp-image-6772" srcset="https://insanwisata.id/wp-content/uploads/2023/10/DSC08225.jpg 1600w, https://insanwisata.id/wp-content/uploads/2023/10/DSC08225-300x200.jpg 300w, https://insanwisata.id/wp-content/uploads/2023/10/DSC08225-1024x684.jpg 1024w, https://insanwisata.id/wp-content/uploads/2023/10/DSC08225-768x513.jpg 768w, https://insanwisata.id/wp-content/uploads/2023/10/DSC08225-1536x1026.jpg 1536w" sizes="(max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /></figure>
</div>


<div style="height:30px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<p>Senada dengan Hannif dan Iwan, <em>founder</em> Moana yang diwakilkan oleh Anita Briana menjelaskan bahwa Moana telah berkomitmen untuk mengembangkan konsep wisata yang bertanggung jawab dan ramah lingkungan. Lewat Moana Bike Tour, Anita sukses menyelenggarakan banyak <em>trip</em> bersepeda di beberapa tempat, seperti Nanggulan, Kota Gede, dan lokasi lainnya. Desain <em>trip</em> ini tidak sepenuhnya dikelola Moana, melainkan juga memberikan ruang untuk melibatkan masyarakat lokal. </p>



<p>Dalam kegiatan <em>trekking</em> dan <em>sharing</em> yang diselenggarakan oleh <a href="https://www.ted.com/">TEDx UGM</a> tersebut, setidaknya terdapat beberapa kesimpulan yang dapat dijadikan refleksi bersama. Pertama, bahwa pengembangan ekowisata di kawasan TNGM harus dikonsep melalui pendekatan pendidikan lingkungan. Artinya, kegiatan wisata harus mampu mengedukasi pengunjung tentang ekosistem, keanekaragaman hayati, dan pentingnya pelestarian alam.</p>



<p>Kedua, pengembangan ekowisata di TNGM harus mengedepankan pemberdayaan masyarakat lokal. Hal ini sudah terlihat melalui munculnya unit-unit jasa/usaha baru, seperti jasa pemandu, usaha penginapan, UMKM, serta berkembangnya desa-desa wisata di lereng Gunung Merapi.</p>



<p>Baca juga: <a href="https://insanwisata.id/tantangan-pengembangan-desa-wisata-di-indonesia/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Tantangan Pengembangan Desa Wisata di Indonesia</a></p>



<p>Ketiga, perlu adanya komitmen bersama di lingkungan <em>stakeholder</em> untuk merumuskan regulasi yang mengarah pada keberlanjutan. Salah satu bentuk aturan ketatnya terkait pelestarian alam, penghormatan lingkungan dan budaya setempat, serta manajemen risiko seperti prosedur keselamatan dan <a href="https://insanwisata.id/manajemen-risiko-destinasi-wisata/">mitigasi bencana</a>. </p>



<p>Keempat, pengembangan ekowisata harus menyertakan peran konservasi dan restorasi. Manajemen pengelola harus bisa menyisihkan sebagian pendapatan pariwisata untuk proyek konservasi dan restorasi alam, seperti penanaman pohon dan pemulihan habitat. Dengan menggabungkan empat komitmen tersebut, ekowisata di Gunung Merapi dapat menjadi model pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan, masyarakat setempat, dan para pengunjung.</p>



<p>Baca juga: <a href="https://insanwisata.id/emisi-karbon-pariwisata/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Emisi Karbon di Industri Pariwisata</a></p>



<div style="height:30px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="1600" height="1067" src="https://insanwisata.id/wp-content/uploads/2023/10/DSCF8797.jpg" alt="konsultan ekowisata" class="wp-image-6769" srcset="https://insanwisata.id/wp-content/uploads/2023/10/DSCF8797.jpg 1600w, https://insanwisata.id/wp-content/uploads/2023/10/DSCF8797-300x200.jpg 300w, https://insanwisata.id/wp-content/uploads/2023/10/DSCF8797-1024x683.jpg 1024w, https://insanwisata.id/wp-content/uploads/2023/10/DSCF8797-768x512.jpg 768w, https://insanwisata.id/wp-content/uploads/2023/10/DSCF8797-1536x1024.jpg 1536w" sizes="(max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /></figure>
</div>


<p></p>



<p></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://insanwisata.id/trekking-plunyon/">Trekking Plunyon: Memahami Konsep Travelling Ramah Lingkungan</a> appeared first on <a href="https://insanwisata.id">Insan Wisata Consulting</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://insanwisata.id/trekking-plunyon/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">6768</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ekowisata: Bukan Hanya Pelestarian Lingkungan</title>
		<link>https://insanwisata.id/pengembangan-ekowisata/</link>
					<comments>https://insanwisata.id/pengembangan-ekowisata/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Hannif Andy Al Anshori]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Apr 2023 16:36:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[ekowisata]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata Berkelanjutan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://insanwisata.id/?p=5598</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pengembangan ekowisata harus mengakomodasi kebutuhan masyarakat lokal, lingkungan alam, dan wisatawan supaya memberikan manfaat yang berkelanjutan. </p>
<p>The post <a href="https://insanwisata.id/pengembangan-ekowisata/">Ekowisata: Bukan Hanya Pelestarian Lingkungan</a> appeared first on <a href="https://insanwisata.id">Insan Wisata Consulting</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam kacamata masyarakat umum, ekowisata dapat menjadi jalan keluar dari <em>overtourism</em> ataupun <em>mass tourism</em>. Ekowisata juga dipandang sebagai pendekatan pembangunan yang ditujukan untuk menekan dampak buruk dari pariwisata. Salah satunya adalah dengan konservasi lingkungan. Namun, apakah ekowisata hanya berbicara mengenai pelestarian lingkungan? Mari kita simak penjelasannya!</p>



<span id="more-5598"></span>



<p class="has-very-light-gray-to-cyan-bluish-gray-gradient-background has-background">TIES atau The International Ecotourism Society (2015) menjelaskan bahwa ekowisata adalah &#8220;<em>responsible travel to natural areas that conserves the environment, sustains the well-being of the local people, and involves interpretation and education</em>”. Artinya, ekowisata merupakan perjalanan yang bertanggung jawab ke daerah-daerah alami yang mempertahankan lingkungan hidup dan mendukung kesejahteraan penduduk setempat.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Prinsip pengembangan ekowisata</strong></h3>



<p>Dalam pengembangan ekowisata, penting untuk memperhatikan prinsip-prinsip <a href="https://insanwisata.id/pembangunan-pariwisata-berkelanjutan/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">pariwisata berkelanjutan</a>. Di sisi lain, pengembangan ekowisata harus mengakomodasi kebutuhan masyarakat lokal, lingkungan alam, dan wisatawan supaya memberikan manfaat yang berkelanjutan. </p>



<p>Dalam praktiknya, <a href="https://ecotourism.org/what-is-ecotourism/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">ekowisata</a> dapat diimplementasikan dengan berbagai cara tergantung pada karakteristik lingkungan dan budaya setempat. Sebagai organisasi nirlaba global yang fokus dalam pembangunan ekowisata, TIES menyebutkan terdapat lima prinsip pengembangan ekowisata. Nah, apa saja 5 (lima) prinsip ekowisata tersebut? </p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Konservasi alam dan budaya<br></strong>Ekowisata memiliki tujuan untuk melindungi serta melestarikan lingkungan alam dan budaya setempat.</li>



<li><strong>Pendidikan dan kesadaran<br></strong>Ekowisata harus menyediakan pengalaman dengan nilai-nilai edukasi guna meningkatkan kesadaran wisatawan dan masyarakat mengenai pentingnya konservasi lingkungan dan budaya.</li>



<li><strong>Pemberdayaan dan pelibatan masyarakat<br></strong>Ekowisata harus memberdayakan dan mengikutsertakan masyarakat lokal. Sebagai aktor utama pembangunan, masyarakat harus mendapat kesempatan dalam proses perencanaan, pengambilan keputusan, dan memeroleh manfaat ekonomi dari pariwisata. Di samping itu, masyarakat harus dilibatkan dalam proses evaluasi dan monitoring sehingga mereka dapat mengontrol pembangunan pariwisata. </li>



<li><strong>Manfaat yang berkelanjutan<br></strong>Ekowisata harus memberikan manfaat ekonomi, lingkungan, dan sosial yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal. Selain itu, ekowisata harus mampu menekan dampak negatif pada lingkungan alam dan budaya setempat.</li>



<li><strong>Pengalaman yang bermakna<br></strong>Ekowisata harus memberikan pengalaman yang bermakna dan menginspirasi wisatawan sehingga mereka dapat memahami pentingnya konservasi lingkungan dan budaya. </li>
</ol>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Strategi pengembangan ekowisata</strong></h3>



<p>Umumnya, terdapat beberapa strategi pengembangan ekowisata yang dapat diterapkan oleh pengambil kebijakan dan pemangku kepentingan, yakni: </p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Menemukenali dan mengidentifikasi potensi<br></strong>Pertama, lakukan identifikasi sumber daya alam dan budaya yang berpotensi untuk dijadikan atraksi/daya tarik wisata. Selain itu, analisa tingkat ketersediaan infrastruktur beserta aksesibilitasnya. </li>



<li><strong>Melibatkan partisipasi masyarakat lokal<br></strong>Peran serta masyarakat lokal sangatlah memengaruhi keberlanjutan destinasi. Pendekatan ini juga dikenal dengan istilah <a href="https://insanwisata.id/cbt-pariwisata-berbasis-masyarakat/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">pariwisata berbasis masyarakat</a> atau <em>community based tourism</em>. </li>



<li><strong>Pengelolaan konservasi<br></strong>Dalam proses perencanaan, tujuan yang ingin dicapai dari ekowisata adalah untuk menjaga kelestarian lingkungan alam dan budaya. Hal ini menjadi prasyarat utama dalam pengembangan ekowisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.</li>



<li><strong>Pengembangan produk wisata yang berkelanjutan<br></strong>Susunlah paket wisata sesuai dengan karakteristik lingkungan setempat. Pastikan juga produk wisata yang dikembangkan memperhatikan prinsip-prinsip ekowisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Misalnya, tidak menggunakan bahan baku yang berpotensi dapat menjadi sampah yang sulit didaur ulang. </li>



<li><strong>Muatan pendidikan dan kesadaran lingkungan<br></strong>Sediakan informasi dan jadikan interpretasi kegiatan wisata sebagai pendidikan yang dapat mempromosikan kesadaran lingkungan dan budaya. Pastikan paket wisata yang ditawarkan memberikan pengalaman yang mengedukasi, baik bagi wisatawan (tamu) maupun masyarakat lokal (tuan rumah). </li>



<li><strong>Pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan<br></strong>Dalam mengembangkan ekowisata, pastikan masyarakat mampu mendesain dan menyediakan infrastruktur yang ramah lingkungan serta ramah budaya. Misalnya saja, pengelolaan limbah dan air yang baik, pemilihan material bangunan pendukung pariwisata yang ramah lingkungan, dan sebagainya. </li>



<li><strong>Pengembangan sumber daya manusia dan manajemen pengelolaan<br></strong>Mengembangkan ekowisata juga membangun kapasitas dan keterampilan masyarakat lokal. Tujuan dari pengembangan SDM adalah untuk meningkatkan kualitas layanan dan mengoptimalkan manfaat ekonomi dari pariwisata. Selain itu, perlu adanya kerja sama dan kolaborasi dengan generasi muda sebagai bentuk upaya regenerasi dan menanamkan nilai-nilai pelestarian.</li>



<li><strong>Menyusun mitigasi bencana/risiko dan menghitung daya dukung destinasi (<em>carrying capacity</em>)</strong><br>Tidak dapat dipungkiri, ekowisata menjadikan sumber daya alam sebagai daya tarik utama. Di sisi lain, alam memiliki tingkat kerentanan yang tinggi sehingga mudah rusak dan sulit pulih. Untuk meminimalisir dampak negatif dari pariwisata, pengelola ekowisata harus berani mengambil keputusan untuk tidak rakus dalam berbisnis pariwisata. Berlakukan pembatasan kunjungan dengan menghitung daya dukung/tampung destinasi. </li>



<li><strong>Membangun kemitraan</strong> <strong>dan pola pikir</strong><br>Sebagai bentuk dari upaya membangun ekosistem masa depan pariwisata yang berkelanjutan, pekowisata adalah perjalanan kolektif yang membutuhkan kolaborasi. Untuk itu, perlu adanya kebijakan dan regulasi baik di tingkat lokal maupun nasional untuk sama-sama membangun pola pikir, bahwa kesuksesan pariwisata tidak diukur menggunakan angka kedatangan wisatawan. Di samping itu, perlu adanya cara pandang agar tidak melihat pariwisata dari sisi ekonomi saja, tetapi harus diarahkan untuk meningkatkan kelestarian lingkungan dan budaya. </li>



<li><strong>Pemasaran ekowisata dan <strong>penggunaan teknologi tepat guna</strong><br></strong>Susunlah strategi pemasaran yang tepat untuk meningkatkan citra pariwisata guna menangkap dan mendatangkan wisatawan yang berkualitas. Bidik pasar (wisatawan) yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan dan budaya.</li>
</ol>



<div style="height:30px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img decoding="async" src="https://insanwisata.id/wp-content/uploads/2023/04/Pengembangan-Ekowisata.jpg" alt="Pengembangan Ekowisata" class="wp-image-5600" width="840" height="560" srcset="https://insanwisata.id/wp-content/uploads/2023/04/Pengembangan-Ekowisata.jpg 1600w, https://insanwisata.id/wp-content/uploads/2023/04/Pengembangan-Ekowisata-300x200.jpg 300w, https://insanwisata.id/wp-content/uploads/2023/04/Pengembangan-Ekowisata-1024x683.jpg 1024w, https://insanwisata.id/wp-content/uploads/2023/04/Pengembangan-Ekowisata-768x512.jpg 768w, https://insanwisata.id/wp-content/uploads/2023/04/Pengembangan-Ekowisata-1536x1024.jpg 1536w" sizes="(max-width: 840px) 100vw, 840px" /><figcaption class="wp-element-caption">Waerebo merupakan desa terpencil yang dikelilingi pegunungan dengan panorama hutan tropis yang terletak di Kabupaten Manggarai, NTT. Pada 2021, UNWTO menobatkan desa ini sebagai Best Tourism Villages. </figcaption></figure>
</div>


<div style="height:30px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>



<p>Indonesia memiliki banyak destinasi wisata yang telah berhasil mengembangkan ekowisata dengan baik. Salah satu destinasi yang berhasil dalam pengembangan ekowisata adalah Desa Wisata Nglanggeran di Kabupaten Gunungkidul, Desa Waerebo di Kabupaten Manggarai, Pantai CMC (Clungup Mangrove Conservation) Tiga Warna di Kabupaten Malang, dan Ekowisata Tangkahan di Kabupaten Langkat. </p>



<p>Baca juga: <a href="https://insanwisata.id/urgensi-dokumen-rippda/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Pentingnya Dokumen Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (RIPPARDA)</a></p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Bagaimana cara menjadi wisatawan yang bijak? </strong></h3>



<p>Ekosistem ekowisata dapat berjalan secara berkelanjutan jika setiap wisatawan dan pemangku kepentingan dapat berkontribusi positif pada lingkungan destinasi wisata. Nah, untuk dapat menjadi wisatawan yang bertanggung jawab, terdapat beberapa praktik perjalanan bijak yang dapat dilakukan, yaitu: </p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Pilih destinasi ekowisata yang menerapkan konsep pembangunan pariwisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.</li>



<li>Pilih operator wisata (<em>travel agent</em>) yang bertanggung jawab dan memiliki rekam jejak yang baik dalam praktik pariwisata berkelanjutan. </li>



<li>Minimalkan dampak lingkungan. Misalnya saja dengan mengurangi penggunaan air dan listrik, tidak membuang sampah sembarangan, dan menggunakan transportasi yang ramah lingkungan.</li>



<li>Hormati budaya dan masyarakat lokal dengan cara mengagumi serta mempelajari budaya setempat, berinteraksi dengan masyarakat, dan mematuhi aturan dan norma setempat.</li>



<li>Dukung keberlanjutan destinasi dengan menggunakan produk ataupun jasa yang ditawarkan masyarakat dan mengurangi penggunaan sumber daya alam yang berlebihan.</li>



<li>Meminimalisir jejak karbon perjalanan.</li>



<li>Bagikan pengalaman yang berkaitan dengan nilai positif perjalanan wisata atau ekowisata kepada orang lain. Cara ini tentunya dapat membantu mempromosikan pariwisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.</li>
</ol>



<p>Dengan komitmen dan upaya di atas, diharapkan kita sebagai wisatawan dapat berkontribusi dalam membangun masa depan pariwisata Indonesia yang lebih baik.</p>
<p>The post <a href="https://insanwisata.id/pengembangan-ekowisata/">Ekowisata: Bukan Hanya Pelestarian Lingkungan</a> appeared first on <a href="https://insanwisata.id">Insan Wisata Consulting</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://insanwisata.id/pengembangan-ekowisata/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">5598</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
