tantangan pariwisata berkelanjutan

Tidak dapat dipungkiri, industri pariwisata yang tidak diatur ataupun dikelola secara bijak dan bertanggung jawab dapat merugikan lingkungan destinasi, baik lingkungan alam maupun masyarakatnya. Misalnya saja, dampak polusi, perusakan terumbu karang, dan penurunan kualitas air. Dalam jangka panjang, hal ini tentu dapat mengancam keberlangsungan ekosistem dan keanekaragaman hayati.

Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan guna mengurangi dampak negatif dari pembangunan pariwisata. Tujuan utamanya adalah untuk memastikan keberlangsungan pariwisata di masa depan sehingga membantu mencegah kerusakan lingkungan serta mengurangi konflik antara wisatawan dan masyarakat setempat.

Bagi daerah yang sungguh-sungguh ingin memulai atau membuat regulasi pembangunan pariwisata berkelanjutan, tentu akan bertanya-tanya, bagaimana contoh ideal penerapan sustainable tourism? Sebelumnya, mari simak definisi pariwisata berkelanjutan di bawah ini.

Apa yang dimaksud dengan pariwisata berkelanjutan?

World Tourism Organization (WTO) menjelaskan bahwa pariwisata berkelanjutan adalah “tourism that takes full account of its current and future economic, social and environmental impacts, addressing the needs of visitors, the industry, the environment, and host communities”. (Pariwisata berkelanjutan merupakan konsep pembangunan/pengembangan pariwisata yang memperhitungkan sepenuhnya dampak ekonomi, sosial, serta lingkungan saat ini dan masa depan).

Sementara Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2021 mendefinisikan pariwisata berkelanjutan sebagai kegiatan pariwisata yang memperhatikan prinsip keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Permen tersebut juga menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya alam dan budaya secara berkelanjutan, serta mempromosikan partisipasi aktif masyarakat lokal dalam pengelolaan kegiatan pariwisata.

Dari kedua definisi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pembangunan pariwisata berkelanjutan haruslah mempertimbangkan dampak pariwisata pada alam, budaya, dan masyarakat lokal, serta berusaha untuk mengoptimalkan manfaat positif dan meminimalkan dampak negatifnya.

Di samping itu, terdapat setidaknya 4 (empat) kata kunci yang dapat menyukseskan pembangunan pariwisata berkelanjutan, yakni:

  1. Praktik-praktik ramah lingkungan.
  2. Penggunaan sumber daya yang bertanggung jawab.
  3. Pengembangan pariwisata yang mempromosikan partisipasi masyarakat lokal.
  4. Menghormati keanekaragaman budaya serta ekosistem.

Lantas, mengapa harus ada pariwisata berkelanjutan?

Setidaknya terdapat beberapa isu yang harus direspon supaya para pemangku kepentingan beralih dan menjadikan sustainable tourism sebagai arah kebijakan dalam setiap agenda pembangunan kepariwisataan.

  1. Perubahan iklim
    Industri pariwisata berkontribusi pada perubahan iklim melalui emisi gas yang dihasilkan oleh transportasi dan akomodasi. Perubahan iklim juga dapat memiliki dampak yang serius pada pariwisata, khususnya pada destinasi yang bergantung pada lingkungan alaminya. Adapun bentuk perubahan iklim yang sudah terlihat adalah perubahan suhu dan cuaca, kenaikan permukaan air laut, perubahan pola migrasi satwa liar, serta peningkatan frekuensi bencana alam.
  2. Overtourism
    Adanya kedatangan jumlah wisatawan yang berlebihan tentunya dapat menyebabkan kerusakan lingkungan dan kerusakan sosial budaya di destinasi wisata. Di samping itu, overtourism juga dapat mengganggu kehidupan sehari-hari masyarakat lokal sehingga dapat memengaruhi kualitas hidupnya.
  3. Overcrowding
    Akibat dari mass tourism dan overtourism, kegiatan pariwisata dapat berdampak terhadap overcrowding atau kepadatan wisatawan. Hal ini tentu saja dapat mengganggu kenyamanan wisatawan dan masyarakat setempat. Di sisi lain, kepadatan wisatawan dapat berpotensi mengakibatkan peningkatan kejahatan, kemacetan lalu lintas, dan penurunan kualitas hidup.
  4. Kerusakan lingkungan
    Seperti yang telah disebutkan dalam paragraf pembuka, tidak dapat dipungkiri bahwa pariwisata dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Misalnya saja, kerusakan terumbu karang, deforestasi, dan polusi.
  5. Kerusakan budaya
    Pembangunan pariwisata yang tidak berkelanjutan akan mengakibatkan kerusakan budaya serta tergerusnya identitas budaya masyarakat setempat. Hal ini terjadi karena adanya adopsi budaya asing berlebihan oleh masyarakat setempat dengan alasan memenuhi kebutuhan wisatawan.
  6. Ketidakadilan sosial
    Pariwisata dapat memperburuk kondisi kesenjangan sosial dan ekonomi di suatu destinasi. Kebijakan pariwisata yang tidak berpihak dan berkelanjutan akan menguntungkan pemilik modal besar dan meninggalkan masyarakat lokal yang rentan.
  7. Penggunaan sumber daya alam yang berlebihan
    Jika tidak diatur secara bertanggung jawab dan bijak, pariwisata dapat mengakibatkan penggunaan sumber daya alam yang berlebihan, seperti air, energi, dan bahan makanan.

Atas dasar itulah kemudian diperlukan pengelolaan pariwisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Tujuan utamanya adalah untuk mengurangi dampak negatif dari kegiatan pariwisata dan memastikan keberlangsungan pariwisata di masa depan.

desa wisata nglanggeran dan pariwisata berkelanjutan

Destinasi inspiratif yang berhasil mengusung pariwisata berkelanjutan

Pernahkah Anda mendengar Gunung Api Purba Nglanggeran atau Desa Wisata Nglanggeran? Mari kita belajar dari desa wisata yang berada di Kabupaten Gunungkidul tersebut.

Desa Wisata Nglanggeran adalah salah satu contoh sukses dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Desa wisata ini berhasil menjadikan pariwisata sebagai nilai tambah ekonomi bagi masyarakat dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan dan budaya lokal.

Daya tarik utama dari Desa Wisata Nglanggeran terletak pada Gunung Api Purba Nglanggeran, yang menjadi bagian Gunung Sewu Geopark. Beberapa atraksi yang dikembangkan oleh pengelola adalah agrowisata, pengembangan produk lokal, edukasi lingkungan, glamping, serta promosi budaya lokal. Untuk membentuk iklim pariwisata yang kondusif, pengelola menggandeng masyarakat lokal sebagai mitra dalam pengelolaan pariwisata sehingga memberikan manfaat ekonomi yang merata.

Lantas, mengapa Desa Wisata Nglanggeran menjadi contoh sukses dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan?

Pada 2016, Desa Wisata Nglanggeran mendapatkan penghargaan dari UNWTO (United Nations World Tourism Organization) sebagai salah satu dari 14 proyek terbaik di dunia dalam kategori “Inovasi di dalam Desa Wisata”. Belum lama ini, pada Maret 2023, Desa Wisata Nglanggeran terpilih kembali mewakili Indonesia dalam ajang Desa Wisata Terbaik atau Best Tourism Village yang diselenggarakan oleh organisasi yang sama, yakni UNWTO.

Dengan sederet prestasi yang telah diakui secara internasional, bukan berarti Desa Wisata Nglanggeran tak pernah mengalami permasalahan. Sejak dipromosikan secara masif oleh banyak media, wisatawan yang datang ke desa ini menjadi lebih banyak. Misalnya saja, pada 2014, Desa Wisata Nglanggeran mencatat adanya kunjungan wisatawan sebanyak 325.000 dengan total omzet 1,4 miliar.

Jumlah kunjungan yang tinggi tersebut tentunya belum dibarengi oleh pemahaman pengelolaan yang berkelanjutan sehinga muncul beberapa masalah. Di tahun 2014, pengelola mengaku cukup kerepotan karena jumlah sampah yang dihasilkan menjadi lebih banyak. Di samping itu, adanya ketidaknyamanan masyarakat lokal terhadap dampak kegiatan pariwisata, seperti kebisingan kendaraan, polusi, dan jejak vandalisme yang mengotori fasilitas publik.

Kekhawatiran terbesar pengelola terhadap kerusakan lingkungan dan overcrowding kemudian menghasilkan keputusan yang cukup berat, yakni menaikkan harga tiket masuk dua kali lipat guna menjaring pasar (wisatawan) yang lebih berkualitas. Apa dampaknya?

Pengelola Desa Wisata Nglanggeran mengamini, tingginya tiket masuk ke Gunung Api Purba berdampak terhadap menurunnya kunjungan wisatawan. Pada 2019, pengelola hanya mencatat 103.000-an kunjungan wisatawan. Namun, pendapatannya justru makin meningkat dua kali lipat, yakni sebesar 3,2 miliar.

Selain kepedulian terhadap lingkungan, Desa Wisata Nglanggeran secara aktif melakukan inovasi. Berikut beberapa langkah inovasi yang diambil Desa Wisata Nglanggeran dalam membangun pariwisata berbasis masyarakat.

  1. Pengembangan produk lokal
    Desa Wisata Nglanggeran mengembangkan produk-produk lokal seperti kerajinan tangan dan makanan tradisional untuk dijual kepada wisatawan. Bahan baku dari produk ini diambil langsung dari masyarakat lokal yang berprofesi sebagai petani dan peternak. Misalnya saja, pengembangan Griya Cokelat Nglanggeran yang menjual produk olahan cokelat dan susu kambing Etawa.
  2. Edukasi lingkungan
    Desa Wisata Nglanggeran memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup kepada wisatawan yang datang ke wilayahnya. Terdapat pula beberapa paket wisata seperti kegiatan penghijauan dan pelestarian alam di sekitar wilayah Desa Wisata Nglanggeran.
  3. Promosi budaya lokal
    Pengelola Desa Wisata Nglanggeran aktif mempromosikan budaya lokal kepada wisatawan dengan mengadakan pertunjukan seni tradisional dalam bentuk tarian dan musik gamelan. Bahkan, wisatawan diberi kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan kesenian dan kebudayaan yang digelar secara rutin.
  4. Pengembangan agrowisata
    Adapun potensi yang ada di wilayah Desa Wisata Nglanggeran seperti perkebunan kakao turut dimaksimalkan. Selain terlibat dalam aktivitas kepemanduan, masyarakat yang tergabung dalam kelompok kerja PKK juga mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan peningkatan keterampilan dalam pengelolaan serta memasarkan produk pertaniannya.
  5. Pemanfaatan teknologi
    Desa Wisata Nglanggeran telah memanfaatkan teknologi dalam pengelolaan dan pemasaran pariwisata. Selain memiliki website, pengelola juga aktif menggandeng anak muda yang tergabung dalam organisasi Karang Taruna dalam membuat konten-konten kreatif melalui YouTube dan media sosial.

Tantangan dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan

Di lapangan, Insan Wisata sebagai konsultan pariwisata mencatat setidaknya terdapat beberapa tantangan utama yang menyebabkan pembangunan pariwisata berkelanjutan tidak mudah dilakukan. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Tidak adanya pemahaman dari para pemangku kepentingan bahwa pembangunan pariwisata yang berkelanjutan adalah perjalanan kolektif yang membutuhkan kolaborasi.
  2. Tidak adanya dukungan. Beralih ke pendekatan sustainable tourism tidaklah mudah dan bahkan lebih sulit jika kebijakan di tingkat lokal atau regional tidak mendukungnya. Jika pun ada dukungan, siklus politik hanya bertahan maksimal lima tahun. Sedangkan perubahan nyata menuju keberlanjutan membutuhkan waktu 10–20 tahun.
  3. Pola pikir, ego, dan pandangan/penilaian masih menggunakan cara lama. Dalam hal ini, kesuksesan pariwisata masih diukur menggunakan angka/jumlah kedatangan wisatawan.
  4. Keinginan dan keserakahan melebihi apa yang dibutuhkan sehingga meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal dan mengabaikan daya dukung lingkungan. Faktanya, masih banyak penganut pendapat “lebih banyak turis, lebih banyak omzet, lebih banyak keuntungan”.
  5. Kurangnya kesadaran di antara industri pariwisata tentang tujuan pembangunan berkelanjutan.
  6. Kecenderungan pihak eksternal untuk mendanai infrastruktur dibanding pengembangan/peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
  7. Adanya kepentingan dan kekuasaan ekonomi yang besar dalam pengelolaaan bisnis pariwisata.
  8. Kebijakan dan regulasi yang tidak tepat sehingga menghambat pembangunan pariwisata berkelanjutan. Misalnya saja, konsekuensi dari pandemi COVID-19 yang membuat banyak daerah lebih fokus mengejar PAD yang tinggi melalui target angka kunjungan.
  9. Pemanfaatan media sosial yang nyatanya memberi pengaruh sangat besar sehingga menyebabkan overtourism.
Newer Post

Leave A Comment