storytelling di destinasi wisata

Dalam pengamatan kami, salah satu isu strategis pembangunan pariwisata di daerah adalah minimnya storytelling. Sayangnya, banyak yang menilai bahwa storytelling sebatas teknik bercerita yang digunakan saat mengantar atau memandu wisatawan berkunjung ke destinasi wisata saja. Padahal, storytelling tidak hanya digunakan dalam aktivitas memandu, melainkan juga untuk berpromosi, branding, dan membangun koneksi emosional.

Dengan menggunakan teknik storytelling, destinasi dapat menyampaikan pesan dan informasi mengenai ciri khas dan daya tariknya secara lebih kreatif. Misalnya saja, menggali cerita rakyat atau sejarah, sosok inspiratif, nilai-nilai budaya, dan lainnya. Dengan mengetahui cerita dan makna di balik destinasi wisata yang dikunjungi, wisatawan dapat merasa lebih terlibat dan memiliki koneksi emosional dengan destinasi tersebut.

Apa itu storytelling?

Storytelling adalah seni atau teknik bercerita yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi dengan cara yang menarik dan berkesan. Dalam konteks bisnis dan pemasaran destinasi wisata, storytelling digunakan untuk mempromosikan produk dan jasa yang dikemas melalui cerita yang dapat menarik perhatian konsumen dan membangkitkan emosi.

Umumnya, pengelola destinasi wisata bisa mengemas teknis storytelling melalui visual, verbal, atau tulisan. Dengan begitu, dalam era digital ini, storytelling memiliki keluaran produk yang cukup beragam, seperti video, blog, podcast, presentasi, iklan, atau kampanye pemasaran. Jika berhasil, storytelling dapat menciptakan koneksi emosional dengan wisatawan ataupun konsumen, membantu destinasi wisata lebih mudah diingat, dan membedakan sebuah produk/jasa dari pesaing.

Mengapa storytelling dapat membuat produk atau jasa kita terlihat berbeda?

Destinasi wisata yang memiliki cerita yang terhubung dengan budaya, sejarah, atau alam di sekitarnya tentunya lebih menarik bagi wisatawan. Selain itu, storytelling juga dapat membantu menciptakan pengalaman yang lebih mendalam bagi wisatawan. Hal ini tentunya dapat membantu meningkatkan tingkat kepuasan dan keinginan wisatawan untuk kembali berkunjung ke destinasi tersebut. Bahkan, wisatawan yang merasa puas akan merekomendasikan destinasi tersebut kepada orang lain.

Tujuan teknik storytelling bagi destinasi wisata

Selain untuk menciptakan pengalaman yang lebih mendalam bagi wisatawan, terdapat beberapa tujuan teknik storytelling bagi destinasi wisata, seperti:

  1. Meningkatkan dan memperkaya daya tarik.
  2. Meningkatkan kesadaran merek.
  3. Meningkatkan tingkat kepuasan wisatawan.
  4. Merawat ingatan dan melestarikan budaya ataupun sejarah.
  5. Mempromosikan budaya dan sejarah.

Terlepas dari tujuan promosi, storytelling dapat digunakan sebagai metode untuk merawat ingatan leluhur/nenek moyang mengenai sejarah destinasi wisata. Hal ini tentunya dapat menjaga dan memperkenalkan kekayaan budaya ataupun sejarah bagi generasi yang akan datang.

Baca juga: Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan: Inilah Tantangannya!

storytelling di desa wisata
Bertemu dengan Qozin (38 tahun), warga Dusun Brongkol, Desa Tanjungsari yang menunjukkan sarang lebah madu yang siap dipanen. Dokumentasi ini merupakan rangkaian wisata jelajah lingkar desa Candi Borobudur menggunakan mobil antik VW. (Dokumentasi: Insan Wisata, 2019)

Langkah menyusun storytelling

Untuk meningkatkan daya tarik destinasi dan menciptakan pengalaman yang lebih berkesan bagi wisatawan, terdapat beberapa langkah dalam menyusun storytelling. Dalam artikel ini, kami akan menggunakan contoh storytelling dalam media blog/website dan media sosial seperti Instagram dan Facebook. Berikut penjelasannya!

  1. Tentukan tujuan
    Dalam menyusun cerita, tentukan tujuan yang ingin dicapai terlebih dulu. Apakah tujuannya untuk mempromosikan destinasi wisata tertentu, menarik minat wisatawan, atau menciptakan koneksi emosional dengan pembaca?
  2. Pilih cerita yang tepat dan memiliki nilai jual tinggi
    Cerita yang dipilih harus memiliki kaitan dengan destinasi wisata yang dipromosikan, mudah dimengerti, dan menarik minat audiens. Jika disampaikan dalam bentuk teks, pastikan naskahnya mudah dibaca, rapi, dan minim typo.
  3. Bangun struktur cerita
    Gunakan elemen-elemen penting, seperti tokoh, alur, konflik, dan penyelesaian. Pastikan cerita memiliki klimaks yang menarik supaya memberikan kesan yang mendalam bagi audiens.
  4. Gunakan bahasa yang menarik
    Jika mampu, gunakan bahasa yang menarik, tetapi mudah dimengerti oleh audiens. Teks tidak perlu terlalu panjang, tetapi cukup untuk menceritakan elemen-elemen penting, seperti alur, konflik, dan penyelesaian.
  5. Kemas dengan visualisasi yang menarik
    Visualisasi yang bagus akan membuat audiens tertarik untuk membaca sampai selesai. Visualisasi dapat berupa foto atau video yang membantu audiens memahami cerita dengan lebih baik.

Contoh storytelling dalam media blog/website

Berikut adalah beberapa contoh penerapan teknik storytelling dalam media blog ataupun website.

  1. Cerita mengenai Desa Wisata Jarum di Kabupaten Klaten
    Tak sulit menemukan rumah produksi batik tulis di Desa Jarum. Sejak dulu, desa ini telah dikenal sebagai salah satu desa penghasil batik tulis terbesar di Solo Raya. Produknya tersebar hampir di seluruh kabupaten tetangga seperti Yogyakarta dan Surakarta.
    Selengkapnya: Perjalanan Panjang Desa Wisata Jarum
  2. Cerita mengenai Desa Wisata Muncar di Kabupaten Temanggung
    Desa Muncar sendiri merupakan salah satu Desa Sejahtera Astra yang terletak di antara dataran tinggi Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau. Dengan lanskap perdesaan yang masih asri, mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai petani.
    Selengkapnya: Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer
Previous Post
Newer Post

Leave A Comment