Destinasi Wisata Buatan, Bagaimana Manajemen Risikonya

Dalam era di mana setiap sudut didefinisikan oleh lensa ponsel dan kamera, keserasian lingkungan dan keamanan mendapatkan sorotan yang tak terduga. Dalam artikel ini, kami mengajak Anda menjelajahi landasan kritis dari keamanan di tengah demam wahana selfie yang melanda dunia, termasuk Indonesia.

Perkembangan teknologi dan makin mudahnya penggunaan media sosial telah menciptakan budaya baru bagi masyarakat dalam berbagi pengalaman secara visual. Industri pariwisata pun akhirnya memanfaatkan fenomena ini sebagai strategi pemasaran. Salah satu bentuknya adalah menciptakan wahana wisata buatan dan spot selfie yang didesain sedemikian rupa supaya wisatawan dapat menghasilkan foto-foto yang Instagramable.

Tak dapat dipungkiri, maraknya pembuatan taman hiburan (theme park) dan spot selfie di Indonesia disebabkan karena adanya perpaduan tren, perubahan budaya digital, strategi pemasaran destinasi, dan permintaan pasar. Akibatnya, banyak destinasi wisata yang bersaing untuk menarik perhatian pengunjung dan menjadikan wahana selfie sebagai produknya.

Sayangnya, banyak wahana wisata buatan dan spot selfie yang didesain tanpa memperhatikan faktor keamanan, keselamatan pengunjung, dan keserasian lingkungan. Dampak dari kelalaian tersebut tentu saja mengakibatkan bisnis yang tidak berkelanjutan, kecelakaan bagi wisatawan, bahkan berujung pada kehilangan nyawa.

Baca juga: Kasus Jembatan Kaca Maut di Banyumas

Umumnya, spot selfie yang terlalu populer dan cepat viral dapat mendatangkan kerumunan orang. Dari sisi bisnis, mungkin saja menguntungkan. Namun, bagaimana dari sisi kenyamanan dan keamanan? Telebih lagi jika kapasitas tempat tidak dapat mengakomodasi jumlah wisatawan yang datang. Kondisi ini tentunya dapat menciptakan situasi yang sulit saat terjadinya bencana ataupun evakuasi darurat.

Faktor penyebab kecelakaan di taman hiburan (theme park) dan spot selfie

Meskipun tidak sering terpapar risiko seperti halnya destinasi alam, destinasi wisata buatan seperti wahana wisata buatan dan spot selfie memiliki banyak potensi bahaya. Misalnya saja kegagalan struktur, kerusakan fasilitas, masalah keamanan, dan lainnya. Selain itu, terdapat beberapa faktor yang mungkin dapat menyebabkan kecelakaan.

Kesalahan desain atau konstruksi

Perhitungan struktural yang tidak akurat atau kurangnya analisis struktural dapat menyebabkan kerusakan elemen struktur pada destinasi wisata buatan. Hal ini tentunya dapat meningkatkan risiko kegagalan struktur, terutama dalam kondisi beban eksternal seperti angin, gempa, dan lainnya. Di samping itu, desain yang tidak memperhitungkan kondisi lingkungan lokal, seperti iklim, hujan deras, atau faktor lain dapat menyebabkan kerusakan struktural.

Pemeliharaan dan perawatan yang kurang

Jika wahana wisata buatan dan spot selfie tidak diperiksa secara teratur atau tidak mendapatkan perawatan yang memadai, risiko kegagalan struktur dapat meningkat. Pentingnya perawatan teratur dan preventif di destinasi wisata buatan tidak hanya untuk menjaga keawetan dari infrastruktur. Namun, untuk memastikan keamanan pengunjung serta mempertahankan keberlanjutan lingkungan.

Selain wahana wisata buatan dan spot selfienya, fasilitas keselamatan seperti tangga darurat, sistem proteksi kebakaran, atau peralatan evakuasi juga harus rutin diperiksa. Dengan begitu, dibutuhkan perhatian, komitmen, dan pengelolaan yang tertib supaya sistem proteksi bahaya dan fasilitas dari wahana wisata buatan dan spot selfie selalu dalam kondisi laik pakai.

Manajemen risiko taman hiburan atau theme park
Penting bagi pengelola theme park untuk melakukan pemeliharaan rutin, pemeriksaan struktural berkala, dan memastikan bahwa semua bangunan dan peralatan mematuhi standar keselamatan dan regulasi yang berlaku. Untuk itu, pengelola harus memahami bagaimana manajemen risiko untuk wahana taman bermain.

Pengelolaan yang tidak tertib dan sesuai standar

Setiap pembangunan wahana wisata buatan dan spot selfie yang memiliki risiko kecelakaan tinggi harusnya mengantongi izin operasi dari pemerintah setempat. Izin ini bisa dalam bentuk uji kelaikan bangunan yang dapat dibuktikan dengan sertifikat laik fungsi, izin operasi wahana, kajian lingkungan beserta dampak lalu lintasnya, dan lainnya.

Izin operasi adalah bentuk kepatuhan hukum. Tanpa izin yang sah, taman hiburan (theme park) dapat menghadapi sanksi hukum, penutupan, atau larangan operasi. Di samping itu, izin operasi menjadi bagian dari persyaratan lingkungan yang harus dipatuhi oleh pengelola destinasi wisata. Hal ini sebagai upaya untuk melindungi alam sekitar, seperti pengelolaan limbah, pemeliharaan tanah, dan pelestarian sumber daya alam.

Kurangnya informasi dan proses evakuasi yang jelas

Seringkali destinasi wisata buatan tidak menyediakan informasi yang jelas tentang jalur evakuasi dan prosedur keselamatan kepada pengunjung. Dalam perencanaan atau saat proses desain, kurang memperhatikan jalur evakuasi dan tanggap darurat dapat menjadi masalah serius saat terjadi insiden atau bencana.

Desain yang tidak mempertimbangkan rute evakuasi yang aman dapat meningkatkan risiko cedera. Untuk itu, dibutuhkan papan penunjuk, petunjuk evakuasi, dan latihan evakuasi guna memastikan keselamatan pengunjung saat terjadi bencana ataupun kecelakaan.

Baca juga: Pentingnya Manajemen Risiko dan Mitigasi Bencana di Destinasi Wisata

Manajemen risiko dan mitigasi bencana di taman hiburan dan spot selfie

Untuk menjadikan wahana wisata buatan dan spot selfie tetap aman, terdapat beberapa langkah yang dapat diambil oleh pengelola dan pemangku kepentingan. Berikut ini adalah manajemen risiko dan mitigasi bencana di taman hiburan (theme park).

  1. Membuat perencanaan tanggap darurat
    Buatlah kajian terkait serangkaian strategi dan tindakan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengelola risiko yang mungkin terjadi.
  2. Pemenuhan regulasi dan izin
    Pastikan pembangunan destinasi wisata telah memenuhi semua regulasi dan persyaratan izin yang ditetapkan oleh otoritas setempat dan pemerintah. Ikuti rekomendasi yang disampaikan oleh konsultan perencana pariwisata, khususnya hal-hal yang menyangkut keselamatan, kenyamanan, juga keamanan. Kondisi ini juga mencakup persyaratan administratif dan teknis, seperti pengurusan sertifikat laik operasi (SLO), sertifikat laik fungsi, izin operasi, dan lainnya. Bahkan, dokumen persyaratan lingkungan (seperti AMDAL atau UKL-UPL) harus dipenuhi.
  3. Perencanaan keselamatan dan evakuasi
    Lakukan perencanaan keselamatan yang komprehensif, termasuk rute evakuasi yang jelas, tempat pertolongan pertama, dan perlengkapan keselamatan yang memadai. Pastikan seluruh karyawan dan pengunjung dilibatkan dalam simulasi tanggap darurat.
  4. Pemeliharaan rutin
    Lakukan pemeliharaan rutin pada semua wahana, fasilitas, dan infrastruktur yang tersedia. Periksa secara berkala untuk mendeteksi potensi masalah atau kerusakan. Libatkan ahli K3 (kesehatan dan keselamatan kerja) dalam menganalisa, merencanakan, dan memberikan rekomendasi yang tepat untuk mitigasi bencana.
  5. Pemilihan material dan desain yang tepat
    Pilih material yang tahan terhadap cuaca dan lingkungan setempat. Perencana juga harus dipastikan telah mendesain wahana yang aman, termasuk perhitungan struktural yang akurat. Saat pembangunan di lapangan, peran pengawas proyek sangatlah penting untuk memastikan kualitas dan spesifikasi material tidak diturunkan nilainya.
  6. Pengelolaan dan manajemen pengunjung
    Tak kalah pentingnya adalah melakukan pembatasan jumlah pengunjung agar sesuai dengan kapasitas. Sistem reservasi atau penjadwalan waktu kunjungan dapat membantu pengelola untuk memantau kunjungan dan mencegah overtourism.
  7. Pengelolaan limbah dan lingkungan
    Terapkan praktik pengelolaan limbah yang baik dan pertahankan keberlanjutan lingkungan. Kurangi penggunaan plastik sekali pakai dan lakukan inisiatif pelestarian alam setempat.
  8. Keterlibatan pengunjung
    Buat program-program partisipatif yang mengajak pengunjung/wisatawan untuk berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan. Misalnya, menanam pohon, melepas atau mengamati satwa, dan lainnya.
  9. Adaptasi teknologi dan keamanan cyber
    Implementasikan sistem keamanan yang efektif, termasuk pengawasan personel keamanan, sistem pemantauan CCTV, dan prosedur evakuasi yang jelas.
  10. Kolaborasi dengan otoritas keselamatan
    Lakukan kolaborasi dan kemitraan dengan otoritas keselamatan setempat untuk memastikan bahwa semua peraturan keselamatan telah dipatuhi. Misalnya saja, bermitra dengan fasilitas kesehatan terdekat, dinas pemadam kebakaran, ataupun petugas kepolisian. Memperbarui desain dan standar operasional sesuai dengan perubahan regulasi juga penting untuk memastikan keberlanjutan bisnis.
  11. Penerapan CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environment Sustainability)
    Meski kebijakan CHSE muncul untuk merespon pandemi Covid-19, CHSE sejatinya dapat diterapkan untuk kebutuhan jangka panjang. Hal ini karena CHSE berisi pedoman mengenai penerapan kebersihan, kesehatan, keamanan, dan kelestarian lingkungan di destinasi ataupun akomodasi.
Destinasi Wisata Buatan, Bagaimana Manajemen Risikonya
Salah satu destinasi wisata buatan di Yogyakarta, yakni Studio Alam Gamplong yang didesain sesuai dengan karakter budaya masyarakat Indonesia. Konsep wisata ini menghadirkan suasana Indonesia tempo dulu sehingga mampu memberikan nilai pembelajaran yang baik bagi wisatawan.

Pertimbangan lain pembangunan spot selfie

Pembangunan spot selfie beserta infrastruktur pendukungnya dapat memiliki dampak negatif terhadap lingkungan, termasuk deforestasi, kerusakan ekosistem, dan peningkatan jejak karbon. Kondisi inilah yang banyak disorot masyarakat sehingga konsep pembangunan spot selfie sangat bertentangan dengan prinsip pariwisata berkelanjutan.

Pada beberapa destinasi, spot selfie juga dianggap sebagai konsep yang tidak serasi, bahkan tidak menghormati budaya setempat. Bentuk kritik lainnya terhadap spot selfie adalah dapat membuat pengalaman wisata dikomodifikasi, yakni dengan fokus pada estetika visual dibanding pengalaman mendalam dan makna budaya.

Untuk itu, diperlukan langkah pengelolaan dan pemasaran yang baik dalam mengembangkan spot wisata selfie. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:

  1. Pemberdayaan dan tingkatkan hubungan dengan ekonomi lokal ataupun regional
    Spot wisata selfie dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan memberikan kontribusi ekonomi bagi masyarakat setempat. Hal ini berlaku jika destinasi melibatkan komunitas lokal dalam pengelolaan dan operasionalnya.
  2. Promosi pendidikan dan kesadaran
    Spot wisata selfie dapat menjadi sarana untuk mempromosikan edukasi dan kesadaran terhadap lingkungan, budaya, atau sejarah. Informasi dan narasi yang disertakan dalam wahana dapat meningkatkan pemahaman dan meningkatkan kualitas berwisata.
  3. Pengelolaan dan manajemen pengunjung
    Dengan merancang sistem reservasi atau mengelola kapasitas pengunjung, spot wisata selfie dapat mencegah kerumunan dan merawat keberlanjutan destinasi.
  4. Desain yang serasi dengan alam dan budaya setempat
    Lakukan studi mendalam tentang lingkungan alam dan budaya di sekitar destinasi sebagai inspirasi saat membuat perencanaan. Pahami nilai-nilai lokal, simbol-simbol budaya, dan ekosistem yang perlu dijaga. Rancang wahana dengan mempertimbangkan arsitektur ramah lingkungan. Lindungi dan pertahankan keaslian alam sekitar wahana. Hindari merusak vegetasi, air, atau habitat satwa liar.
  5. Integrasi arsitektur yang ramah lingkungan
    Desain wahana agar tampak alami dan menyatu dengan lanskap sekitar. Hindari menciptakan struktur yang mencolok atau bertentangan dengan estetika alam.

Tantangan masa depan: keberlanjutan dan inovasi keamanan

Seiring dengan terus maraknya tren wahana selfie, tantangan keamanan di tempat-tempat wisata makin kompleks. Keberlanjutan dan inovasi keamanan harus menjadi fokus utama dalam menjawab paradoks ini.

Meningkatkan kesadaran pengunjung, penggunaan teknologi keamanan terbaru, dan kerja sama antarindustri adalah langkah-langkah krusial untuk menciptakan tempat-tempat wisata yang aman dan berkelanjutan. Di sisi lain, kesadaran dan implementasi manajemen risiko serta mitigasi bencana menjadi suatu keharusan yang tak terelakkan untuk memastikan keamanan, kesejahteraan, dan pengalaman positif bagi semua pengunjung.

Previous Post
Newer Post

Leave A Comment