Susur kali bening sebagai experiental Learning

Susur Kali Bening: Wisata Edukasi untuk Belajar Langsung dari Alam

Ayah Bunda pasti tahu betul, anak-anak paling semangat kalau sudah bertemu air. Sungai, kolam, bahkan genangan di halaman pun terasa seru bagi mereka.

Menurut Maureen Healy, pendiri Growing Happy Kids sekaligus penulis buku The Emotionally Healthy Child, menjelaskan bahwa bermain air bisa merangsang indra anak. Rasa dingin di kulit, suara percikan, sampai rasa air yang mengalir di sela jari, semuanya membuat si kecil senang sekaligus tenang.

Nah, kalau anak sudah senang dan tenang, rasa penasaran pasti gampang muncul. Sayang kalau semangat itu berhenti di kolam atau genangan hujan. Sungai di alam terbuka menyimpan jauh lebih banyak hal untuk dijelajahi. Di dalamnya ada ikan, capung, lumut di bebatuan, tanaman air, dan serangga yang hidup saling terhubung, itulah yang disebut ekosistem sungai.

Pengalaman inilah yang dihadirkan lewat wisata edukasi anak Susur Kali Bening, program Insan Wisata Kids di desa mitra yang telah bekerja sama. Teman Kecil bertemu aliran sungai yang jernih, pepohonan rindang, dan batu-batu untuk dipijak. Dengan pendekatan experiential learning, mereka belajar sambil melihat, menyentuh, dan mengalami langsung, mulai dari kebun salak hingga ekosistem sungai.

Belajar dari Pengalaman Nyata

Mungkin Ayah Bunda bertanya, apa sebenarnya experiential learning itu? Sederhananya, Teman Kecil belajar bukan dengan duduk dan mendengarkan, tetapi ikut melakukan dan merasakan sendiri.

Prosesnya melewati empat tahap, yakni mengalami, memahami, mencoba, dan menerapkan. Keempatnya bisa Ayah Bunda temukan sepanjang kegiatan susur sungai.

Susur kali bening sebagai experiental Learning

Terlibat Langsung dalam Petualangan

Petualangan dimulai dengan sesi edukasi singkat bersama Teman Main, lengkap dengan media belajar. Teman Kecil mengenal ekosistem sungai dan hewan penanda sungai yang masih bersih, seperti serangga dan ikan. Mereka juga belajar anatomi pohon salak, dari akar, batang, daun, bunga, buah, hingga biji.

Keberadaan pohon salak ternyata menjadi penanda alami adanya sumber air bersih dan tanah dengan cadangan air melimpah. Di kebun salak, Teman Kecil menyusuri jalan setapak yang membuat mereka melangkah pelan dan hati-hati.

Di sepanjang jalan, pemandu lokal mengenalkan bunga jantan dan bunga betina salak, serta waktu yang dibutuhkan pohon salak hingga bisa dipanen, sekitar 2 sampai 3 tahun. Teman Main juga bercerita mengapa sungai yang bersih itu penting. Sungai adalah rumah bagi hewan dan tanaman, sekaligus sumber air bagi warga desa untuk mengairi kebun salak.

Baca juga: Anak Susah Fokus Saat Belajar? Ini Alasan Alam Bisa Bikin Mereka Betah Belajar Lebih Lama

Setelah itu, Teman Kecil melepaskan ikan ke sungai sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian ikan setempat. Aksi sederhana ini menjadi wujud pariwisata regeneratif, saat wisatawan tidak hanya menikmati alam, tetapi juga memberi kembali. Seluruh perjalanan dilalui bersama keluarga dan teman-teman baru.

Susur kali bening sebagai experiental Learning

Mulai Mengamati Kehidupan di Sungai

Di tengah sungai, Teman Kecil mulai memperhatikan sekelilingnya. Ada batu-batu, pepohonan rindang di kanan kiri, dan suara aliran air yang menenangkan. Angang-angang bergerak di permukaan air, sementara capung biru metalik beterbangan dan hinggap di ranting.

Mereka mengamati langsung, lalu mencocokkan temuan itu dengan modul pembelajaran yang telah disampaikan sebelumnya di sesi edukasi. Pertanyaan pun bermunculan, seperti “Ini hewan apa?” atau “Kenapa angang-angang bisa berjalan di atas air tapi tidak tenggelam?” Itu tanda otak anak sedang bekerja.

Giliran Teman Kecil Mencoba

Setelah banyak melihat dan mendengar, kini giliran Teman Kecil mencoba sendiri. Di kebun salak, mereka memetik buah bersama Ayah Bunda. Tentu tidak asal petik, sebab pemandu lokal lebih dulu mengenalkan cara memilih buah yang benar-benar matang.

Dari kebun, petualangan berlanjut ke sungai. Teman Kecil mencari sendiri tanda-tanda sungai bersih yang tadi dikenali lewat media belajar. Ada yang lebih dulu menemukan capung, ada pula yang melihat serangga bergerak di atas permukaan air.

Susur kali bening sebagai experiental Learning

Membawa Pulang Cerita dan Makna

Inilah tujuan dari seluruh perjalanan. Teman Kecil memahami bahwa air bersih menjadi rumah yang nyaman bagi ikan dan serangga, sehingga sungai yang sehat bisa dikenali dari penghuninya. Mereka juga menyadari bahwa buah salak melewati proses panjang sebelum sampai ke tangan kita.

Pemahaman ini menumbuhkan kepedulian. Wisata edukasi anak seperti ini tidak dimaksudkan untuk membuat anak menghafal sebanyak mungkin. Tujuannya membuat mereka pulang dengan bekal pengalaman yang lebih berharga, yakni kecintaan untuk menjaga alam agar tetap lestari.

Peran Ayah Bunda pun sangat besar. Dengan mendampingi Teman Kecil secara dekat dan hangat, Ayah Bunda ikut menciptakan kesan mendalam yang akan mereka bawa hingga dewasa. Siap mengajak Teman Kecil susur kali bersama Insan Wisata Kids, trip organizer ramah anak yang menjadikan alam sebagai ruang belajar?

Ditulis oleh: Siti Latifatuzzahroh

Share This Post

Facebook
X
LinkedIn

Recent Post

Study Tour: Bukan Sekadar Jalan-Jalan, tetapi Belajar dari Pengalaman

Pariwisata Regeneratif untuk desa wisata

Menanam Padi, Menanam Nilai: Wisata Edukasi Pariwisata Regeneratif Bersama Insan Wisata Kids

pariwisata regeneratif di Yogyakarta

Praktik Pariwisata Regeneratif Insan Wisata Kids

Manfaat edutrip bagi anak

5 Karakter yang Tumbuh Saat Anak Mengikuti Edutrip

Petualangan Arkeolog Cilik

Yuk, Ajak Teman Kecil Jadi Arkeolog Cilik!

wisata anak pertanian di Jogja

Edukasi Pertanian untuk Anak: Belajar dari Sawah ke Meja Makan

Ceritakan Pendapatmu

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top