Okinawa, Jepang – Insan Wisata Kids kembali menorehkan langkah penting di kancah internasional. Pada 5–6 Februari 2026, operator wisata edukasi berbasis di Yogyakarta ini mewakili Indonesia dalam ajang Asia New Travel Bootcamp (ANTB) 2026 di Naha, Okinawa.
Tidak sekadar hadir sebagai delegasi, Insan Wisata Kids membawa misi yang lebih luas, yakni memperkenalkan paket wisata desa dan produk kreatif dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ke forum pariwisata Asia.
Partisipasi ini merupakan kelanjutan dari keterlibatan mereka dalam program Wonderful Indonesia Scale-up Hub (WISH) 2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata, di mana Insan Wisata Kids terpilih sebagai salah satu dari 25 pelaku usaha terbaik nasional.
Dalam forum ANTB, mereka tidak hanya berbicara tentang konsep, tetapi menghadirkan praktik nyata pariwisata regeneratif yang telah dijalankan bersama desa-desa wisata di DIY.
Membawa Desa dan Produk DIY ke Forum Asia
Di tengah pertemuan travel innovators, startup, dan pelaku industri pariwisata Asia, Insan Wisata Kids memperkenalkan model edutrip yang dikembangkan melalui proses pendampingan intensif selama dua tahun terakhir. Sejak 2024, sejumlah desa dan kampung wisata di DIY telah menjalin kerja sama melalui nota kesepahaman (MoU) untuk mengembangkan produk wisata berbasis pengalaman bersama masyarakat lokal.
Pendekatan yang diusung bukan sekadar menjual paket kunjungan, melainkan membangun proses co-creating produk bersama masyarakat. Program dirancang, diuji, dan disempurnakan melalui dialog antara tim Insan Wisata Kids dan komunitas desa. Hasilnya adalah paket wisata edukatif yang tidak terlepas dari konteks sosial, budaya, dan lingkungan setempat.
Co-Founder Insan Wisata Kids, Hannif Andy, menegaskan bahwa partisipasi di ANTB bukan hanya tentang membawa nama brand, tetapi juga membawa cerita desa.
“Kami membawa paket-paket wisata dari desa dan kampung wisata di DIY yang telah melalui proses pendampingan selama dua tahun. Produk-produk ini lahir dari kolaborasi bersama masyarakat lokal. Kami ingin menunjukkan bahwa desa di Yogyakarta mampu menghadirkan pengalaman berkualitas yang relevan dengan pasar Asia,” ujarnya.
Selain paket edutrip, berbagai produk kreatif desa turut diperkenalkan dalam forum tersebut. Produk-produk tersebut merupakan hasil inovasi berbasis potensi lokal, termasuk olahan limbah yang memiliki nilai tambah ekonomi.
Produk dari Kampung Wisata Suryatmajan dan Kampung Wisata Cokrodiningratan, misalnya, mempromosikan produk kreatif dari limbah kain perca dan sampah botol plastik. Limbah yang sebelumnya tidak bernilai diolah menjadi suvenir hingga produk dekoratif yang memiliki daya jual. Inisiatif ini menjadi contoh konkret bagaimana prinsip regeneratif diterapkan dalam praktik, bukan hanya dalam wacana.
Dari WISH Menuju Forum Asia
Perjalanan menuju ANTB 2026 bermula dari program WISH 2025 yang digagas Kementerian Pariwisata RI. Program tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha agar mampu meningkatkan daya saing dan memperluas jejaring global.
Dalam proses kurasi, model pariwisata regeneratif yang diusung Insan Wisata Kids dinilai selaras dengan arah transformasi pariwisata nasional. Industri pariwisata Indonesia saat ini tidak lagi semata-mata mengejar angka kunjungan, tetapi juga kualitas pengalaman dan dampak jangka panjang bagi destinasi.
Konsep pariwisata regeneratif yang dibawa ke ANTB menekankan tiga hal utama, yakni menjaga alam, merawat budaya, dan memberdayakan masyarakat. Dalam konteks DIY, konsep ini diterjemahkan melalui aktivitas edutrip yang mengajak anak-anak dan keluarga berinteraksi langsung dengan kehidupan desa.
Hannif menambahkan bahwa tren pasar menunjukkan perubahan perilaku wisatawan.
“Segmen pasar di nusantara semakin sadar akan pentingnya perjalanan yang bertanggung jawab. Fenomena lingkungan yang terjadi belakangan ini membuat banyak orang mulai bertanya, apakah perjalanan kita memberi dampak baik? Kami menawarkan pendekatan yang tidak hanya mengurangi dampak negatif, tetapi menciptakan nilai tambah bagi desa dan lingkungan,” katanya.
Edukasi Anak sebagai Pintu Masuk
Dalam sesi diskusi di ANTB, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata, Rizki Handayani, menyoroti model edutrip Insan Wisata Kids sebagai pendekatan yang relevan.
Program tersebut dirancang untuk anak usia 2,5 hingga 12 tahun bersama keluarga. Melalui pengalaman langsung di desa, anak tidak hanya datang untuk bermain, tetapi belajar memahami proses kehidupan.
“Kadang sesederhana urusan nasi di meja makan. Banyak orang tua menghadapi tantangan ketika anak-anak sulit makan atau tidak menghargai makanan. Lewat pengalaman langsung di desa, anak-anak belajar dari prosesnya, dari sawah hingga menjadi nasi. Dari sana tumbuh penghargaan terhadap pangan dan lingkungan,” ujar Rizki dalam forum tersebut.
Model ini dipandang menarik karena menghadirkan pengalaman terstruktur yang membangun kesadaran sejak dini. Anak dan keluarga diajak memahami pentingnya preserving nature, merawat identitas budaya, serta menghargai peran masyarakat lokal dalam rantai nilai pariwisata.
Membuka Peluang Jejaring Internasional
Partisipasi di ANTB 2026 juga membuka peluang kerja sama lintas negara. Beberapa pelaku industri dari Jepang dan negara Asia lainnya menunjukkan ketertarikan terhadap model kolaborasi berbasis desa yang dikembangkan di DIY.
Diskusi awal mengenai potensi program pertukaran budaya (cultural exchange) untuk anak dan keluarga mulai mengemuka. Ketertarikan ini memperlihatkan bahwa desa wisata di Yogyakarta memiliki daya saing di tingkat regional, khususnya dalam segmen wisata edukatif dan keluarga.
Momentum ini menjadi bukti bahwa inovasi yang tumbuh dari komunitas lokal dapat diterima dalam forum internasional. Bukan hanya karena konsepnya unik, tetapi karena memiliki fondasi pendampingan yang konsisten dan proses kolaboratif yang nyata.
Menguatkan Ekosistem DIY
Keikutsertaan dalam ANTB 2026 tidak hanya menjadi capaian bagi Insan Wisata Kids, tetapi juga ruang promosi bagi desa-desa wisata di DIY. Pendampingan selama dua tahun terakhir membuktikan bahwa kolaborasi antara pelaku usaha dan masyarakat lokal dapat menghasilkan produk wisata yang lebih matang dan berkelanjutan.
Transformasi pariwisata Indonesia pada akhirnya tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik atau angka kunjungan. Ia ditentukan oleh kemampuan menghadirkan model yang berpihak pada komunitas, memberi ruang partisipasi, dan membuka peluang ekonomi yang adil.
Dari desa dan kampung wisata di Yogyakarta, cerita tentang regenerasi, kolaborasi, dan kreativitas kini menembus forum Asia. Dan di Okinawa, paket-paket wisata DIY bukan hanya diperkenalkan sebagai destinasi, tetapi sebagai representasi masa depan pariwisata yang lebih sadar, inklusif, dan berdampak.
